25 September 2013

Menghadapi Masa Depan Anda dengan Damai

Rabu, 25 September 2013
Menghadapi Masa Depan Anda dengan Damai: Yesaya 26:1-9
 
Saya percaya banyak diantara kita yang memikirkan masa depan, mempersiapkan masa depan, dan pastinya muncul akan kekhawatiran akan masa depan. Bisakah saya katakana 99,9 % diantara kita yang mengkhawatirkan masa depan? Sepertinya iya, tetapi masalahnya adalah berapa persen tingkat kekhawatirannya? Itu yang berbeda dari masing-masing kita.
Pagi ini, aku diajarkan bukan tentang masa depan saja, tetapi bagaimana percaya penuh kepada Allah, dan termasuk salah satunya adalah tentang masa depan kita. Aku belum sampai pada masa depan, tetapi masa sekarang aja…masih kabur bagiku tentang bagaimana mempercayakan diri kepada Allah. Sudah sangat sering mendengar kata percaya kepada Allah. Bagiku, Allah itu pasti menjaga dan memberkati kita ketika kita sudah melakukan bagian kita. Sepanjang kita tidak melakukan bagian kita, bagaimana mungkin Allah menjaga dan memberkati kita? Itu yang kupahami selama ini. Dan aku berkutat dengan apakah aku sudah melakukan bagianku? Misalnya disiplin waktu, displin kerja, tekun, dll…..dan hasilnya adalah aku melihat kegagalan disana sini, tetapi berkat Allah tetap mengalir, tapi selalu muncul ketidakpuasan…”Seandainya aku melakukan ini, melakukan itu…pasti berkatNYA jauh lebih dari yang sekarang”. Wah…pokoke….kegagalan deh yang terlihat.
Tetapi hasil ngobrol dengan kekasih hati (cie..cie…) tadi pagi memberi sudut pandang yang berbeda, bisa dikataka terbalik lagi.
Katanya: “Lho…memang menjadi anak Allah itu enak banget…..Itu nggak bisa dipungkiri (dalam hati menjawab, huh…koq enak benaaar….nggak terima.com). Kemudian dilanjutkannya dengan analogi “ Seperti anak dengan orang tuanya. Sebagai anak, dia nggak perlu selalu minta ini itu kepada ortunya. Ortunya akan memberikan apa yang dibutuhkan tanpa diminta, memang ada saatnya si anak yang meminta. Tapi secara umumnya orang tua akan memberikan apa saja yang dibutuhkan anaknya. Si anak hanya bertugas menjadi anak yang baik dan taat”.
Jawabku: “Nah…menjadi anak yang baik dan taat itu kan sudah merupakan bagian yang dilakukan si anak. Maksudkupun begitu…aku sebagai anak melakukan bagianku”. Lalu dia menjelaskan, tetapi melakukan bagian si anak yang dimaksud tidak lah harus melakukan ini dan itu, tetapi sebagai anak Allah, salah satu bagian yang kita lakukan adalah berdoa dan taat. Sekali lagi dalam hatiku menjawab,”Wuih…enak banget berdoa dan taat aja sudah selesai deh tanggungjawab kita. Nggak perlu melakukan bagian lain seperti yang kumaksud di atas. Wong katanya menjadi anak Allah harus menjadi “the best” (hasil retret Kompak Bertumbuh @ Omah Tembi, 15-16 Septmber 2013).
Lalu dijelaskan lagi, tetapi cara berpikirnya harus dibalik…bagian kita yang pertama sekali kita lakukan adalah: berdoa dan taat….dan yang lain akan menyusul untuk kita dimampukan untuk melakukannya. Contoh…dengan berdoa…maka kita menjadi tenang menghadapi persoalan, kita meletakkan kepercayaan kita kepada Allah. Dengan begitu, secara psikologis aja nih…., hati dan pikiran tenang dan ada kekuatan dan semangat untuk melakukan bagian kita yang lain, misalnya tekun bekerja, cerdik dalam bekerja, dll. Jadi logika berpikirnya dibalik…jangan melakukan ini dan itu dulu baru berdoa dan taat. Justru….berdoa dan taat lebih dulu, kemudian menjadi terbaik dalam bagian lainnya.
So…let’s pray first and then be the best in others action!!!

Visi Kami dari padaNYA: Omah Joyful

Omah Joyful! Koq disebut Omah Joyful? Apa artinya? Hm...itu merupakan perpaduan bahasa Jawa dan Inggris Secara tata bahasa sebenarnya nggak nyambung:) tetapi sebagai satu kesatuan mempunyai makna yang "luarbiasa", yaitu “RUMAH PENUH SUKACITA”. Sebenarnya masih berproses mencari kata yang tepat sih...dengan makna yang sama, tetapi sementara ini dulu. Lagi menanyakan kata penuh sukacita dalam bahasa Jawa:)
Omah Joyful itu adalah rumah pemberian Tuhan dengan maksud agar: "Penuhlah sukacitamu". Wah..hebat yah...sudah punya rumah dong? He..he..sebenarnya itu bukan rumah kami koq, tetapi itu rumah bapake dan mboke Galang, malah dah disebut rumahnya Katja:) makanya tadinya mau disebut Omah Katja, tetapi berhubung itu menunjuk pada satu orang saja,  maka dicari kata lain dan sementara ini ketemulah Omah Joyful.
Oh iya, lanjutan dari penuhlah sukacitamu. Hm...artinya adalah ini adalah rumah sementara kami tempati sambil menanti yang punya rumah kembali lagi ke Yogyakarta:) tetapi sementara menanti, rumah ini dimaksudkan untuk menjadi rumah yang penuh sukacita. Awalnya sih, sukacita kami sebagai yang dipercaya untuk menempati rumah ini, tetapi koq ya rasanya egois banget yah:) Dan memang kami sangat penuh sukacita tinggal di Omah Joyful. Asli…suer…penuh sukacita. Ha..ha… Bagaimana tidak penuh sukacita, rumahnya besar…., bersih…., artistic….dan lingkungan alam pedesaan yang segar…. Lalu seiring dengan mengajukan pertanyaan ini dan itu kepada DIA, jawaban dari DIA adalah bahwa Omah Joyful tidak diperuntukan hanya kepada kami untuk menikmati sukacita itu, tetapi setiap orang yang datang ke rumah memperoleh sukacita.
Lah..bagaimana caranya? Dengan mengelola rumah secara bertanggungjawab bukan kepada pemilik rumah saja, tetapi kepada DIA pemberi berkat. Wah...rohani banget yah??? Tapi memang begitulah. Awalnya kami tidak mau tinggal di Omah Joyful karena besar....sekali bagi kami dan memikirkan biaya perawatan dan beban bagaimana merawat rumah membuat kami berpikir seribu kali untuk tinggal di dalamnya. Jadi awalnya bukan sukacita yang kami terima, tetapi "tak sanggup deh....". Akan tetapi Ketulusan hati dari mbok dan bapake Galang membuat kami memberanikan diri menerima dan ketika mengatakan iya, Firmannya meneguhkan kami untuk tinggal: "Supaya penuhlah sukacitamu" (Yoh 16:24).
Omah Joyful dimaksudkan untuk kami bertumbuh di dalamnya dengan penuh sukacita dan pada akhirnya sukacita kami itu memberi dampak kepada setiap orang yang datang ke rumah. Hm..bukan hanya datang bertamu, tetapi juga untuk maksud lain. Apakah itu??? Ya...Omah Joyful direncanakan menjadi rumah penginapan bagi orang yang membutuhkan tempat untuk menginap bukan dengan tujuan sekedar meletakkan badan, tetapi juga tempat untuk "refleksi" diri sehingga melalui situasi dan kondisi rumah dan lingkungan, orang yang menginap akan mendapatkan kesegaran baru dan kekuatan baru untuk melanjutkan kehidupannya dan doa kami “Menemukan Allah dalam hidupnya”. (Ups…Firman yang meneguhkannya lupa…hm..perlu dicari di catatan dulu:)
Wah...gimana mungkin....
Yup..rasanya tidak mungkin. Itu awal pemikiran kami berdua. Awalnya kami berpikir Omah Joyful jauh dari lokasi kota. Coba pikir getho lho...Bahkan beberapa yang mendengar rencana ini juga menyatakan pemikirannya bahwa….agak sulit karena lokasinya jauh :(. Tetapi ketika kami melihat ini bukan hanya sekedar penginapan yang mendatangkan keuntungan financial, tetapi lebih kepada tujuan seperti yang disebut di atas....apa yang tidak mungkin?  As long as...kita melakukan bagian kita (Aha....doa dan taat, penguatan dari firman Yesaya 26:1-9, sate Rabu, 25 September 2013), apa yang tidak mungkin. Dia akan meluruskan jalan buat kita. Wuih...enak banget kesannya. Tapi langkah pertama memang itu yang diminta bukan?? Percaya dan lakukan bagianmu: Doa dan Taat, selebihnya semua itu akan menyusul. Kalau kata orang lain sih "Selama ada keyakinan, alam semesta pun membuka jalan". Wah...hebat kan...alam semesta membuka jalan...apalagi kita...Allah sendiri yang merintis jalan lurus bagi orang yang percayar, Yesaya 26:7). Wuih...enak banget....Yup...akupun masih bergumul dengan itu, tetapi pagi tadi dapatnya itu. Amin.....itu langkah orang beriman, bukan bertanya bagaimana, tetapi Amin...dan kemudian bertanya padaNYA, bagaimana. Bukan sebaliknya, bagaimana dulu baru Amin.
Jadi, tulisan ini adalah sebagai langkah berikut untuk membuat Omah Joyful berjalan. Well..sebenarnya dari awal kami tinggal, rumah ini sudah menjadi Omah Joyful...tetapi itu Joyful bagi kami berdua, belum menjadi Omah Joyful bagi orang lain. 
So....let's work with God to make this house/home become Omah Joyful....!!!

16 Maret 2011

Merayakan Hari Pernikahan: Anggur yang Terbaik

Yogyakarta. Kota kenangan yang menyenangkan hati. Pada tanggal 12-15 Maret 2011 yang lalu, aku kembali datang ke Yogyakarta, bukan untuk melepas kangen dengan kota Yogyakarta karena tidak memiliki kesempatan untuk keliling, akan tetapi untuk melepas kangen dengan sibungsu dan suami serta ketiga ponakannya yang sangat menggemaskan. Selain melepas kangen juga untuk menghadiri perayaan hari ulangtahun pernikahan mereka yang ke-10 tahun.

Point penting dalam perayaan pernikahan mereka adalah hadirnya seorang pendeta yang telah kukenal di masa aku kuliah, Pdt. Budi Marsudi. Dia memberikan kotbah yang membangun sekali, diambil dari ....hm...lupa tepatnya pasal apa, tetapi perihal: Air menjadi Anggur.

Inti dari kotbah tersebut adalah:
1. Biasanya orang menyuguhkan anggur yang terbaik dalam suatu pesta dan kemudian setelah anggur terbaik habis maka yang disediakan anggur yang biasa. Kebiasaan ini karena ketika telah menikmati anggur terbaik maka anggur yang biasa menjadi biasa juga.
2. Maksud dari point pertama adalah: suatu pernikahan sering sekali mengalami "kebahagiaan" di awal pernikahan akan tetapi semakin hari bertambah maka "kebahagiaan" pernikahan itu menjadi semakin hambar, menjadi semakin biasa saja. Hal ini terjadi salah satunya adalah karena kebiasaan membangun komunikasi semakin berkurang karena "rutinitas kehidupan". Yang ketika awal pacaran komunikasi itu sangat menyenangkan dan seintens mungkin, kemudian memasuki pernikahan bertambah tahun berkuranglah greget komunikasi dan semakin berkurang pula intensitasnya. Contohnya:
  • tidak ada jam makan bersama
  • tidak ada jam doa bersama
  • tidak ada waktu berdua bersama
Rutinitas kehidupan membuat kita tidak menyadari indahnya hari yang kita lalui setiap saat. Atau kita hidup dengan masa lalu, hidup dengan penyesalan atau hidup dengan masa depan, hidup penuh dengan kekhawatiran. Berapa banyak diantara kita yang tidak menyadari hidup pada saat ini, tidak dapat menikmati hidup saat ini. Bagaimana dengan anda?

Perayaan pernikahan itu menjadi penting bukan untuk "hura-hura"nya tetapi waktu bagi kita mengevaluasi pernikahan kita, apakah anggur pernikahan kita semakin hari semakin yang terbaik yang kita rasakan ataukah semakin asam? Hm...aku perlu sampaikan kepada suamiku agar kami belajar "merayakan hari pernikahan kami" sehingga perayaan itu menghasilkan anggur yang terbaik.

14 Februari 2011

Kembali Memulai: Mazmur 43:1-5

Aku baca blog ini. Ternyata tulisan terakhir tahun 2009. Waw...luar biasa. Aku membaca sekilas dan tidak menyangka bahwa aku ternyata sudah menuliskan beberapa tulisan berbahasa Indonesia mengenai Firman Tuhan yang aku peroleh melalui kotbah minggu ataupun melalui saat teduhku. Sebelum aku membuka blog ini, yang aku ingat adalah bahwa tulisan ini dalam bahasa Inggris sebagai saranaku melatih kemampuan menulis bahasa Inggris sambil menuangkan pembelajaran yang aku ambil dari kotbah mingguan. Luar biasa...

Minggu kemarin terbersit dalam pikiranku untuk mengaktifkan blog ini lagi dengan menuangkan apa saja yang kuperoleh melalui kotbah mingguan maupun hasil perenunganku bersama abang di pagi hari. Sempat berpikir: "Yah..blognya bahasa Inggris...capek deh...aku hanya ingin menuangkan saja pengalamanku karena dengan menuliskan maka aku menjadi semakin mengerti dan ingat" Eh..ternyata....sudah beberapa tulisan dalam bahasa Indonesia.

Firman ini dibawakan oleh Pdt. Julius Anthony. Sudah sering aku melihat namanya tertulis sebagai pengkotbah di booklet GDI, tetapi tidak pernah tepat waktunya dengan jam kami kebaktian. Nah..pada hari Minggu kemarin, seperti biasa kami kebaktian jam 07.00 WIB dan Pdt. Julius Anthony yang membawa Firman Tuhan.

Saat melihatnya dari jauh ketika dia duduk di kursinya, dia sepertinya ramah. Dia berpakaian batik kemeja yang warnya sangat menarik pandangan mataku. Ha..ha..jadi naksir dengan batiknya yang bagus banget (dari jauh seh...) Dan saat dia maju ke depan untuk membawakan FT, dia sempat "minta ijin" kepada pak pendeta GDI, hi..hi..lupa namanya. Dia tepuk punggung pak pendeta GDI. Itu saja sudah menunjukkan dia ramah. Eh..ketika kotbah terbukti bahwa dia berjiwa ramah. Gampang sekali ketawa.

Nah..mengenai FT yang dibawakannya, ada 4 point yang disampaikan bahwa bla..bla...
1. Lewat Keadilan Allah. Ada satu pernyataannya yang awalnya membuat bingung: Ketidakadilan Allah masih lebih adil daripada keadilan manusia. Nah lho..bingung kan? Artinya setidak-tidak adilnya Allah menurut versi kita manusia ini, masih lebih adil koq ketidakadilannya itu dibanding ukuran keadilan Allah.
2. Lewat Kesulitan Hidup.
3. Baca Firman Tuhan setiap hari. Bagaimana kita bisa bertumbuh jika kita tidak mengenal DIA setiap harinya. Jadi baca FT itu wajib hukumnya. He..he..
4. Sukacita, kegembiraanku, dan bersyukur hanya ada di dalam Tuhan Yesus, bukan karena keadaan/situasi yang menyenangkan atau apa yang kita miliki. Kesusahan pasti dialami oleh umat Tuhan tetapi tetap dapat bersukacita, bergembira dan bersyukur karena Tuhan Yesus sendiri.

Aku diingatkan lagi terutama tentang point No. 4. Hm...sukacita dan kegembiraan = kebahagiaan. Dimanapun dan kapanpun manusia mencari KEBAHAGIAAN dalam bentuk ragam pencariannya dan KEBAHAGIAAN SEJATI ada di dalam YESUS.


05 Juni 2009

Minggu, 17 Mei 2009: Counseling Center

1. Perjalanan menuju gereja dengan bis kota no. 57 sehubungan gereja bareng dengan ponakan tertua, Ngy yang manis. Dalam perjalanan itu terpikir kembali mengenai counselling centre. Terpikirkan dengan latar belakang yang ada saat ini, yaitu banyak anak-anak yang tidak memiliki rasa percaya diri dan banyak orang yang "stress" dengan kehidupan yang semakin "berat".

2. Langkah yang diambil untuk mewujudkan counseling center ini adalah:
a. Browsing internet
b. Menempelkan gambar suatu lingkungan counseling center
c. Memikirkan setiap hari

3. Allah kita adalah Allah yang luar biasa dan berkuasa, so...pasti mengalirlah ke anak-anakNya. Masak kita punya Allah yang luar biasa, tapi kita yang mengaku anak-anakNya "melempem". Malu dong...Remember that God is almighty.

4. Anak Allah memeiliki keyakinan atas otoritas Allah dalam hidup kita. Berhasil....tapi jangan lupa "mengonsongkan diri" (merendahkan diri dihadapanNya).

5. Mulai dari Yerusalem. Maksudnya adalah:
a. mati di atas kayu salib/menderita bukan berarti menderita saja (terpuruk dalam penderitaan) tapi yakin dalam penderitaan itu. "Penderitaan" bukan berarti kemegahan diri/tujuan diri kita sendiri
b. Mulai di Yerusalem artinya menanti Allah. Menanti artinya persiapan yang Allah sendiri lakukan sehingga perlu yang pertama tadi bahwa bukan kemegahan kita tapi tujuan Allah. Persiapan apa yang Allah lakukan untuk Renta?
* Menyelesaikan problem diri untuk menolong mereka yang mengalami seperti itu
* Tahapan-tahapan dalam persiapan itu:
- bertemu Allah (kisah him)
- proses penyelesaian diri (Jakarta)
- Meningkatkan skill (peristiwa dalam bis): browsing, tempel, think everyday/imagine, think dan tulis setiap hari dalam proses hidup: family, husband, bestfriend, friends. Catat secara detail. Masing-masing mereka dan kaitkan dengan teori konseling/psikologi

6. Akhir dari semua itu adalah menjadi saksiNya menjadikan Kerajaan Allah dalam semua visi itu.



25 Mei 2009

Minggu, 10 Mei 2009: Berkat Tuhan

Firman Tuhan dalam kebaktian minggu pagi ini membicarakan sesuatu yang menarik sekali karena beberapa alasan berikut ini:
1. Hm...tak baik memang menilai pendeta dari kotbahnya, tetapi itulah yang terjadi padaku terhadap pak pendeta satu ini. Sejak awal, aku tak pernah menikmati kotbahnya, selalu ada yang kurang. Ya istilahnya berulanglah, maknanya kurang dalamlah...Tapi pagi ini, aku doa khusus dalam hati agar bisa mendengarkan kotbahnya dengan pemahaman bahwa Allah sendiri yang berbicara.
2. Jumlah besar/kecilnya something bukan untuk membuat rasa aman dan tenang untuk menghadapi masa depan tapi percaya bahwa apapun itu Allah yang memberikan itu, jadi jangan kwatir dan mikirin kali mengenai hal tersebut. Percaya bahwa itu adalah berkat Tuhan, bersyukur untuk itu dan bijaksana untuk mengelola apapun yang diberikan.
3. Karena tidak fokus ke hal tersebut, maka bisa fokus ke karakter anak Allah yang mengasihi. Apa karakter anak Allah yang mengasihi? Beberapa karakternya adalah:
a. Roh menyala-nyala, tidak kendor kerajinannya
b. Bijaksana dalam menghitung hari-hari yang Allah berikan..
4. Point karakter anak Allah itu yang perlu dikembangkan.

Selamat mengembangkan karakter anak Allah!!

20 April 2009

Become God's Children

God's Children...

Apa yang terpikirkan oleh orang ketika mendengarkan kata menjadi anak-anak Allah. Seharusnya sih...terkagum-kagum gitu lho...Bayangin aja...kita manusia yang berasal dari debu dan penuh dosa ini dijadikan oleh Allah sebagai anak-anakNya. Luar biasakan?? Hm...rasa-rasanya hal ini sering sekali kudengar bahwa setiap orang yang percaya pada Kristus disebut sebagai anak-anak Allah, tetapi baru kali ini aku "berpikir" tentang penyebutan anak-anak Allah ini.

Roma 8:12-17 menyebutkan bukti-bukti bahwa kita adalah anak Allah sebagai beriktu:
  • Ayat 16: Roh Allah akan memberi kesaksian di dalam hati kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Roh Allah sendiri yang memberi kesaksian itu. Kebayang nggak seh...Roh Allah sendiri bersaksi dalam hati kita. Sekarang nih masalahnya adalah apakah kita mendengar kesaksian Roh Allah itu dan apakah kita mempercayainya dan mengamininya?? Hayo...ikutan yang mana nih?
  • Ayat 15: Roh Allah menolong kita untuk mampu dan berani menyapa Allah sebagai Bapa kita. Berapa banyak diantara kita menyadari akan hal ini bahwa kita diberi keberanian untuk menyapa Allah sebagai Bapa kita. Emang apakah ada yang ngaku orang percaya tidak berani menyapa Allah sebagai Bapa? Hm..rasanya aku juga dulu mengalami bahwa aku tidak memiliki keberanian untuk menyapa Dia sebagai Bapa. Habis..masak sih...Allah sang Pencipta mau disebut Bapa? Kalo disebut Bapa kan berarti hubungannya dekat dong....Tapi ada juga sih gambaran hubungan bapa dengan anak itu (yang riel neh) tidak dekat. Gimana mo dekat...tampang bapa suka serius, saking seriusnya jadi kelihatan serem, tambah serem karena jarang tertawa bersama. Ha..ha...ada nggak yang punya pengalaman begitu? Banyak kale ya....Bagi yang ngalami hal demikian, mungkin mengalami kesulitan menjadikan hubungan dirinya dengan Allah seperti anak dan Bapa.
  • Ayat 13: Kita mampu untuk hidup tanpa dikendalikan lagi oleh keinginan daging, melainkan dipimpin oleh Allah (14). Hm...point ini yang sangat menarik bagiku dan membuatku "tersentak". Sebenarnya hal ini sering sih kudengar, tetapi baru nyambung di otak ku yang segenggam ini. He..he.
Ketika disebut sebagai anak-anak Allah seharusnya ada perbedaan yang sangat besar dengan sebelum kita menyadarinya. Anak-anak Allah mengandung banyak hal positif. Apakah dia tipe orang yang mengasihani diri sendiri? Apakah dia tipe orang yang mudah menyerah? Apakah dia tipe orang yang tidak perduli pada orang lain? Apakah dia tipe orang yang mau gampangnya saja? Masih banyak pertanyaan apakah yang bernuansa negatif.

Tapi melalui firman ini, Tuhan ingatkan bahwa ketika kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak Allah, maka hidup kita dipenuhi dengan nuansa-nuansa positif yang memberikan dampak positif bagi orang di sekitar kita. Kalau istilah sekarang adalah aura yang terpancar, aura yang terlihat oleh orang lain, positif ataukah negatif. Semakin kita memikirkan karakter dari anak-anak Allah semakin harusnya karakter itu muncul dalam diri kita dan ketika kita "terjatuh", kita ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah yang selalu dimampukan untuk bangkit kembali dan kembali melangkahkan kaki kita.

Apakah aku bagian dari anak-anak Allah? Jawabannya ada dalam karakter positif yang ada dalam diri kita. Sejauh orang di sekitar kita mendapatkan pengaruh positif itu sejauh itulah pemahaman kita tentang maksud Allah tentang anak-anak Allah.

Mari kita lihat cermin kita, sudah sejauh manakah karakter anak-anak Allah itu dalam diri kita. Satu hal yang pasti......anak-anak Allah pasti memiliki kemampuan untuk bangkit lagi ketika "terjatuh" karena Allah pasti memampukannya.

So...Selamat menjadi anak-anak Allah yang senantiasa memberi dampak positif bagi orang lain.