05 Juni 2009

Minggu, 17 Mei 2009: Counseling Center

1. Perjalanan menuju gereja dengan bis kota no. 57 sehubungan gereja bareng dengan ponakan tertua, Ngy yang manis. Dalam perjalanan itu terpikir kembali mengenai counselling centre. Terpikirkan dengan latar belakang yang ada saat ini, yaitu banyak anak-anak yang tidak memiliki rasa percaya diri dan banyak orang yang "stress" dengan kehidupan yang semakin "berat".

2. Langkah yang diambil untuk mewujudkan counseling center ini adalah:
a. Browsing internet
b. Menempelkan gambar suatu lingkungan counseling center
c. Memikirkan setiap hari

3. Allah kita adalah Allah yang luar biasa dan berkuasa, so...pasti mengalirlah ke anak-anakNya. Masak kita punya Allah yang luar biasa, tapi kita yang mengaku anak-anakNya "melempem". Malu dong...Remember that God is almighty.

4. Anak Allah memeiliki keyakinan atas otoritas Allah dalam hidup kita. Berhasil....tapi jangan lupa "mengonsongkan diri" (merendahkan diri dihadapanNya).

5. Mulai dari Yerusalem. Maksudnya adalah:
a. mati di atas kayu salib/menderita bukan berarti menderita saja (terpuruk dalam penderitaan) tapi yakin dalam penderitaan itu. "Penderitaan" bukan berarti kemegahan diri/tujuan diri kita sendiri
b. Mulai di Yerusalem artinya menanti Allah. Menanti artinya persiapan yang Allah sendiri lakukan sehingga perlu yang pertama tadi bahwa bukan kemegahan kita tapi tujuan Allah. Persiapan apa yang Allah lakukan untuk Renta?
* Menyelesaikan problem diri untuk menolong mereka yang mengalami seperti itu
* Tahapan-tahapan dalam persiapan itu:
- bertemu Allah (kisah him)
- proses penyelesaian diri (Jakarta)
- Meningkatkan skill (peristiwa dalam bis): browsing, tempel, think everyday/imagine, think dan tulis setiap hari dalam proses hidup: family, husband, bestfriend, friends. Catat secara detail. Masing-masing mereka dan kaitkan dengan teori konseling/psikologi

6. Akhir dari semua itu adalah menjadi saksiNya menjadikan Kerajaan Allah dalam semua visi itu.



25 Mei 2009

Minggu, 10 Mei 2009: Berkat Tuhan

Firman Tuhan dalam kebaktian minggu pagi ini membicarakan sesuatu yang menarik sekali karena beberapa alasan berikut ini:
1. Hm...tak baik memang menilai pendeta dari kotbahnya, tetapi itulah yang terjadi padaku terhadap pak pendeta satu ini. Sejak awal, aku tak pernah menikmati kotbahnya, selalu ada yang kurang. Ya istilahnya berulanglah, maknanya kurang dalamlah...Tapi pagi ini, aku doa khusus dalam hati agar bisa mendengarkan kotbahnya dengan pemahaman bahwa Allah sendiri yang berbicara.
2. Jumlah besar/kecilnya something bukan untuk membuat rasa aman dan tenang untuk menghadapi masa depan tapi percaya bahwa apapun itu Allah yang memberikan itu, jadi jangan kwatir dan mikirin kali mengenai hal tersebut. Percaya bahwa itu adalah berkat Tuhan, bersyukur untuk itu dan bijaksana untuk mengelola apapun yang diberikan.
3. Karena tidak fokus ke hal tersebut, maka bisa fokus ke karakter anak Allah yang mengasihi. Apa karakter anak Allah yang mengasihi? Beberapa karakternya adalah:
a. Roh menyala-nyala, tidak kendor kerajinannya
b. Bijaksana dalam menghitung hari-hari yang Allah berikan..
4. Point karakter anak Allah itu yang perlu dikembangkan.

Selamat mengembangkan karakter anak Allah!!

20 April 2009

Become God's Children

God's Children...

Apa yang terpikirkan oleh orang ketika mendengarkan kata menjadi anak-anak Allah. Seharusnya sih...terkagum-kagum gitu lho...Bayangin aja...kita manusia yang berasal dari debu dan penuh dosa ini dijadikan oleh Allah sebagai anak-anakNya. Luar biasakan?? Hm...rasa-rasanya hal ini sering sekali kudengar bahwa setiap orang yang percaya pada Kristus disebut sebagai anak-anak Allah, tetapi baru kali ini aku "berpikir" tentang penyebutan anak-anak Allah ini.

Roma 8:12-17 menyebutkan bukti-bukti bahwa kita adalah anak Allah sebagai beriktu:
  • Ayat 16: Roh Allah akan memberi kesaksian di dalam hati kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Roh Allah sendiri yang memberi kesaksian itu. Kebayang nggak seh...Roh Allah sendiri bersaksi dalam hati kita. Sekarang nih masalahnya adalah apakah kita mendengar kesaksian Roh Allah itu dan apakah kita mempercayainya dan mengamininya?? Hayo...ikutan yang mana nih?
  • Ayat 15: Roh Allah menolong kita untuk mampu dan berani menyapa Allah sebagai Bapa kita. Berapa banyak diantara kita menyadari akan hal ini bahwa kita diberi keberanian untuk menyapa Allah sebagai Bapa kita. Emang apakah ada yang ngaku orang percaya tidak berani menyapa Allah sebagai Bapa? Hm..rasanya aku juga dulu mengalami bahwa aku tidak memiliki keberanian untuk menyapa Dia sebagai Bapa. Habis..masak sih...Allah sang Pencipta mau disebut Bapa? Kalo disebut Bapa kan berarti hubungannya dekat dong....Tapi ada juga sih gambaran hubungan bapa dengan anak itu (yang riel neh) tidak dekat. Gimana mo dekat...tampang bapa suka serius, saking seriusnya jadi kelihatan serem, tambah serem karena jarang tertawa bersama. Ha..ha...ada nggak yang punya pengalaman begitu? Banyak kale ya....Bagi yang ngalami hal demikian, mungkin mengalami kesulitan menjadikan hubungan dirinya dengan Allah seperti anak dan Bapa.
  • Ayat 13: Kita mampu untuk hidup tanpa dikendalikan lagi oleh keinginan daging, melainkan dipimpin oleh Allah (14). Hm...point ini yang sangat menarik bagiku dan membuatku "tersentak". Sebenarnya hal ini sering sih kudengar, tetapi baru nyambung di otak ku yang segenggam ini. He..he.
Ketika disebut sebagai anak-anak Allah seharusnya ada perbedaan yang sangat besar dengan sebelum kita menyadarinya. Anak-anak Allah mengandung banyak hal positif. Apakah dia tipe orang yang mengasihani diri sendiri? Apakah dia tipe orang yang mudah menyerah? Apakah dia tipe orang yang tidak perduli pada orang lain? Apakah dia tipe orang yang mau gampangnya saja? Masih banyak pertanyaan apakah yang bernuansa negatif.

Tapi melalui firman ini, Tuhan ingatkan bahwa ketika kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak Allah, maka hidup kita dipenuhi dengan nuansa-nuansa positif yang memberikan dampak positif bagi orang di sekitar kita. Kalau istilah sekarang adalah aura yang terpancar, aura yang terlihat oleh orang lain, positif ataukah negatif. Semakin kita memikirkan karakter dari anak-anak Allah semakin harusnya karakter itu muncul dalam diri kita dan ketika kita "terjatuh", kita ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah yang selalu dimampukan untuk bangkit kembali dan kembali melangkahkan kaki kita.

Apakah aku bagian dari anak-anak Allah? Jawabannya ada dalam karakter positif yang ada dalam diri kita. Sejauh orang di sekitar kita mendapatkan pengaruh positif itu sejauh itulah pemahaman kita tentang maksud Allah tentang anak-anak Allah.

Mari kita lihat cermin kita, sudah sejauh manakah karakter anak-anak Allah itu dalam diri kita. Satu hal yang pasti......anak-anak Allah pasti memiliki kemampuan untuk bangkit lagi ketika "terjatuh" karena Allah pasti memampukannya.

So...Selamat menjadi anak-anak Allah yang senantiasa memberi dampak positif bagi orang lain.

17 April 2009

Exodus 14:15-31: I am the Lord

Banyak orang mengaku dirinya percaya pada Allah sang pencipta or bagi yang mengaku dirinya Kristen percaya kepa Tuhan Yesus. Akan tetapi betapa banyaknya dari yang mengaku itu(termasuk aku kaleee..) tidak bisa memahami ketika Dia berkata: I am the Lord. Makna apa yang harus kita percayai dalam kata-kata: I am the Lord. Tuhan mengatakan itu kepada Musa (ayat 18): "maka orang Mesir akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku memperlihatkan kemulianKU terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda -- When I defeat them, the Egyptians will know that I am the Lord."

Kenapa sih Tuhan selalu mengungkapkan hal itu kepada bangsa Mesir ?? Dalam pembahasan sebelumnya pun muncul kata-kata itu: Aku akan menyatakan kemuliaanKU. Betapa tidak...proses dari awal sampai bangsa Israel meninggalkan kota Mesir sangat berat. Sudah sangat jelas bahwa Allah ada dibalik keberangkatan bangsa Israel menuju tanah perjanjian, tetapi raja Firaun tetap....aja tidak bisa melihat itu, padahal sudah ada 10 tulah yang terjadi.

Bukan hanya bangsa Mesir tidak melihat kemahakuasaan Allah tetapi juga bangsa Israel. Buktinya mereka langsung ketakutan ketika melihat raja Firaun dan pasukannya di belakang mereka. Mereka langsung berteriak-teriak minta pertolongan Tuhan. Perkataan Tuhan (ayat 15): The Lord said to Moses, " Why are you crying out for help? Tell the people to move forward". Aku sih nangkapnya, ketika Tuhan itu mendengar seru-seruan bangsa Israel, itu adalah bentuk dari keragu-raguan mereka terhadap Allah. Mereka kehilangan kepercayaan bahwa Allah pasti menolong mereka. Hm...gimana nggak ya...habis musuh di depan mata...pasti takut dong...Tetapi Dia tetap memberikan perintah agar tetap maju ke depan, jangan peduli deh dengan yang di belakang. Yah..gimana ya...kan di depan laut gitu lho...he..he..sepertinya jika aku dihadapkan dalam situasi demikian, akupun akan berseru-seru minta tolong. Tuhan...gimana nih...cepatan dong nolong aku (tentunya jauh di dalam hati sambil mikir....bisa nggak ya? belakang musuh neh....depan laut neh...).

Yah..mungkin saat menghadapi masa-masa krisis seperti itulah kita menjadi menyadari Siapa Tuhan, tetapi ketika kita berangkat penyadaran itu dari masa-masa krisis....ntar kayak bangsa Israel...tegar tengkuk....mujizat di depan hidung berulang kali, tapi tetap aja...saat ada kesulitan ngeluh dan kehilangan kepercayaan.

Jadi...menurut hasil pembahasanku neh dengan si abang...untuk bisa memahami perkataan " I am the Lord" adalah dengan perlahan tapi pasti lewat pengenalan firmanNya. Jadi bukan karena suatu peristiwa luar biasa dan kita merasa tertolong banget...

Kayaknya ketika Tuhan Yesus mau disalib...nggak kelihatan deh batang hidung banyak orang yang mengikut dan memuja-muja Dia saat Tuhan Yesus masih kelihatan gagah. Nggak disebut juga kan orang-orang yang sudah dipulihkan tetap bersama Dia kecuali maria ya...cuma lupa maria yang mana...kalo tidak salah maria yang kedapatan banyak suaminya tuh...kan mau dilempari batu, Tuhan Yesus datang dan hop...kayaknya cuma dia deh yang ngikut saat Yesus dalam penderitaannya.

Hm...tapi bukankah aku pun termasuk bagian dari raja Firaun itu? Betapa banyaknya peristiwa yang menunjukkan kemahakuasaan Allah dalam perjalanan hidupku tetapi tetap......aja tidak bisa melihat bahwa I am the Lord.

By the way....Hm..ada yang revisi tentang si Maria ini???

Exodus 14:1-14

How Great is The GOD!!

It's been too long not read the bible and discuss with my husband. Two days ago, we started to read the bible and discuss it. By the way..there so many topics in my head, so...i think it's easier to write it down in bahasa Indonesia. Ha...ha...Maybe later I will translate into English but first I want to write what we have learned about God's word.

Satu pertanyaan yang muncul dari my husband ketika membaca keluaran 14:1-14 ini, yaitu dituliskan bahwa : "Aku akan mengeraskan hadi Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukanya Aku akan menyatakan kemuliaanKu, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN. Lalu mereka berbuat demikan -- I will make him stubborn and he will pursue you, and my victory over the king and his army will bring me honour. Then the Egyptians will know that I am the Lord. The Israelites did as they were told. Muncul satu pertanyaan, kalau Allah membuat raja Firaun mengeraskan hati, dimanakah letak kebebasan kehendak itu?? Hm....saat itu kami belum mengetahui jawaban atas pertanyaan itu dan sampai sekarang pun masih belum bisa memahaminya. Akan tetapi hal itu tidak menjadikan kami meragukan pernyataan Firman itu. Kami tetap mengamini pernyataan Firman itu. Saatnya akan terjawab.

Bagian lain yang menarik perhatian adalah bahwa ketika pasukan Mesir terlihat di depan mata oleh bangsa Israel, mereka menyampaikan kata-kata yang menunjukkan penyesalan mereka kenapa mereka mengambil keputusan untuk meninggalkan Mesir, lambang perbudakan. Perkataan ini tertulis dalam ayat 11: dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kau perbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pda orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.

Menurutku itu perkataan yang sangat keras yang menunjukkan bahwa mereka menyesal sudah meninggalkan "kenyamanan" menurut versi mereka. Mereka menganggap Mesir sebagai kota perbudakan adalah hal yang lebih baik dibandingkan dengan apa yang mereka hadapi saat ini dan di sini. Mereka tidak bisa melihat bahwa mereka melakukan perjalanan yang membawa perubahan hidup mereka. Merea menyesal ketika dalam perjalanan itu mereka menghadapi hambatan/halangan/persoalan yang sangat terlihat di depan mata.

Refleksi:
1. Mesir lambang kota perbudakan yang saya refleksikan sebagai masa lalu yang "kelam". Kita ingin lepas dari masa lalu itu atau bahkan keinginan untuk melepaskan diri dari masa lalu adalah karena suatu keterpaksaan karena suatu situasi sehingga kita memiliki "sedikit" keinginan untuk melangkah ke arah suatu perubahan. Akan tetapi seperti bangsa Israel, ketika menghadapi hambatan, kita menyesal sudah mengambil keputusan untuk menuju ke perubahan. Kita jadi berpikir bahwa kondisi yang lalu jauh lebih membuat diri kita nyaman dibandingkan yang dihadapi saat ini dan di sini.

2. Firman Tuhan pada perayaan Paskah yang lalu mengingatkan bahwa satu makna Paskah pada tahun ini adalah Pemulihan Hubungan dengan Tuhan. Kita tidak perlu menunjuk hubungan siapa dengan Tuhan karena itu maksudnya adalah diri kita sendiri dengan Tuhan. At least, itu yang kupahami saat mendengarkan kotbah ibu pendeta itu. Muncul semangat baru untuk memulihkan hubungan dengan Tuhan. Dan saat memulainya, Tuhan ingatkan bahwa untuk meninggalkan masa dimana aku mengabaikan Dia pasti akan ada hambatan, tetapi itulah yang perlu dijaga. He reminds me not to give up when there are some troubles....

3. Point penting: Pulihkan hubungan pribadi dengan Tuhan tetapi harus berdasar kesadaran bukan keterpaksaan (karena situasi yang tidak mengenakan) sehingga ketika ada halangan atau hambatan, hubungan itu tetap terjaga.

4. Selamat mengalami pemulihan hubunganmu!!

20 November 2008

The Different of Confusing before and after Believe in Jesus

Well...

Maybe the title is not a good title, but I just wanna tell you my experience before and after I believe in Jesus. My university background is philosophy and psychology. Both of them was interesting topic. Maybe due to my background university, I used to ask about God. Why did He create human being? Didn't He know that the human being He created will rebel on him and make sin? Didn't He know that Lucifer would proud of his self and rebel on him? So why He still created man or angels? How come He is the almighty become a man in Jesus? and the purpose is to save the human being? How come He was born in Maria Magdalena who was virgin?

Why did He create me? What is the purpose of my being in this world? Why was I born in my family? Not in others family? I didn't understand at all. All the question made me confused and finally I could not accept the salvation that Jesus gave.

I think lots of people have an experience like me. No wonder that many people don't believe because there are so many question in their mind and they don't find the answer.

But....
When I believe in Jesus.....there are still many questions that I haven't found the answer. The amazing thing happened is even though I don't find the answer, it doesn't make me confused. I just think that I believe in Jesus, there must be some answer for my questions. Someday I will find the answer, but if I will not find the answer in this world, I will ask Jesus directly in heaven. How amazing and how happy I am when I think that there is a place for me in heaven.

I hope you will find some answer for all your questions, but if you don't find them, it doesn't mean that there is no Jesus. He is there waiting for you to explain lots of amazing thing. Won't you be curious to know it?

GBU

18 November 2008

God's Action

Isaiah 1: 18-31

It's interesting to discuss about God's word. This morning, my husband and I read article Isaiah 1. First, we asked God to guide us to understand the meaning of what we've read. Second, I always read it loudly. I wonder why my husband doesn't read it loudly. He always asked me to read it. Fortunately, I like to read loudly. Hi...hi...With my hard voice, I read it slowly while we try to understand what Jesus wants us to understand. Third, we discuss it.

This morning, we discussed about the characteristic of God Almighty. What will God do when people do the wrong thing, make sin, and the worst thing. Towards, we have unfair among the community, lots of people face injustice. Government do not their task, they just do what advantages their selves without thinking of the impact for other people. Sometimes or we always asked ourselves: "Where is God? Doesn't God do something to help the poor people? Why does God let the bad guys do the worst thing to other people?" There are so many questions to God when we see the unfair or injustice among the community.

Through this article 1, we know that God is not silent. He is God Almighty that He must be take an action for the injustice situation. We want Him to punish them quickly, like: they will be poor or maybe they have an accident. Unfortunately, we can not see the punishment of God. But what is God's action? That is another question. We have our own perspective of God's action. It makes us think that He doesn't do anything to punish the bad guys who makes us suffer.

This article explains that God must be take an action in His time not in our time. What the interesting is He asks us to dialog by explaining the consequences of our choice. He says that : " Now, let's settle the matter: You are stained red with sin, but I will wash you as clean as snow. Although your stains are deep red, you will be as white as wool. If you only obey me, you will eat the good things the land produces. But if you defy me, you are doomed to die, I, the Lord, have spoken". (Isaiah 1:18-20)

So, the choices up to us but every choices have a consequences. Before He takes an action, He will tell us first. So guys, what is your choices? Still make sin? or Would you like to stop it and repent it in Jesus?? The choices up to you.